08 Jan 2026
M otor itu sebenarnya sudah lama tidak sering dikendarai.
Ia terparkir sunyi di sudut beranda, sesekali spionnya tersenggol orang lewat, sesekali pijakan kakinya tertutup guguran daun. Mesinnya masih bisa menyala, penampilannya pun tidak terlalu buruk, hanya saja sudah lama ia tidak lagi menjadi pemeran utama dalam kehidupan sehari-hari.
Baginya, motor itu tidak pernah sekadar alat transportasi.
Motor itu pernah membawanya ke wawancara kerja pertama, juga menemaninya pulang dari rumah teman larut malam melewati jalanan yang lengang. Kota saat itu sangat bising, namun masa-masa itu terasa begitu sederhana. Cukup pasang helm, putar gas, dan segala emosi hari itu seakan bisa ditinggalkan di belakang.
Kemudian, hidup perlahan berubah.
Pekerjaan sudah stabil, keluarga menjadi fokus baru, peran motor itu pun diam-diam mundur ke latar belakang. Ia masih ada, hanya tidak lagi muncul setiap hari.
Hal yang benar-benar membuatnya mulai memperhatikan motor ini adalah saat sedang merapikan rumah, ia menemukan tumpukan foto lama.
Di dalam foto, ia terlihat jauh lebih muda dari sekarang, tertawa lepas tanpa beban. Motor itu ada di sampingnya, terparkir di pinggir jalan, di mulut gang, atau di suatu tempat yang namanya sudah tak lagi diingat.
Ia tiba-tiba sadar, penilaiannya terhadap nilai motor ini sudah lama bukan lagi masalah rasional.
Teman bertanya: "Motor lu itu harusnya masih ada harganya, kan?" Ia sesaat tidak bisa menjawab.
Bukan karena tidak tahu cara menghitung harga motor bekas, melainkan tidak tahu bagaimana cara mengonversi kebersamaan bertahun-tahun itu menjadi sebuah angka.
Ia perlahan mengerti, harga motor bekas sebenarnya bukan penyangkalan terhadap kenangan, melainkan persiapan untuk perjalanan pengguna berikutnya.
Tahun, kilometer, dan kondisi penggunaan adalah syarat objektif
Harga wajar mencerminkan posisi pasar kendaraan
Kenangan tak ternilai, tapi juga perlu ditempatkan dengan layak
Kondisi, tahun, kilometer, syarat-syarat ini tidak menghapus masa lalu, justru seolah membantu mencarikan posisi yang masuk akal untuk kenangan ini.
Ini bukan alat untuk mengukur perasaan, melainkan cara agar perasaan itu bisa diletakkan dengan tenang.
Ada hal-hal yang cukup sampai di kenangan saja; sisanya, serahkan pada pasar untuk terus mengalir.